Kamis, 10 Mei 2018

PT Equity World Futures : Jadi Acuan Rupiah, Fundamental Ekonomi Perlu Diuji

Equity World FuturesFundamental ekonomi kerap dijadikan indikator untuk menilai rupiah. Namun, fundamental ekonomi sendiri sebaiknya terus diuji karena bukan berarti tanpa kekurangan.

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono menerangkan, tahun 1998 fundamental ekonomi Indonesia relatif baik. Fundamental ekonomi sendiri, kata dia, terdiri dari sejumlah indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca transaksi berjalan.

"Sejumlah indikator ekonomi makro paling basic namanya fundamental ekonomi, waktu itu baik-baik saja, tapi kemudian kejadian krisis. Sekarang pertanyaannya, kenapa bisa begitu?"
Ada hal yang luput dari pemerintah, IMF, maupun Bank Dunia waktu itu. Dia mengatakan, indikator yang luput dari perhatian ialah utang luar negeri (ULN).

"Tapi satu faktor yang missing atau tidak tercapture, yaitu utang luar negeri oleh swasta, karena sistem devisa bebas, tidak ada capital control, maka swasta kita boleh utang luar negeri, bebas, dan tidak tercatat," ujarnya.

Sehingga, Tony mengatakan, ketika ULN yang sebagian utang jangka pendek jatuh tempo secara bersamaan muncul masalah. Kala itu, ULN Indonesia sekitar US$ 130 miliar, komposisi ULN pemerintah dan swasta hampir sama yakni sekitar 50%.

"Cadangan devisa kita hanya US$ 20 billion, bayangkan US$ 130 billion, separuhnya swasta berarti US$ 65 billion, dari US$ 65 billion katakan sepertiga atau separuh jatuh tempo, sementara cadangan devisa US$ 20 billion ya nggak ketemu. Demand melebihi supply. Akhirnya rupiah terdepresiasi," ungkapnya.

Dengan kondisi itu, Tony bilang fundamental ekonomi menjadi sesuatu yang terus diuji. "Yang disebut fundamental ekonomi kuat, harus diuji betul, harus hati-hati," ujarnya.

Setelah peristiwa itu, pemerintah pun melakukan pencatatan pada ULN. Bahkan, pemerintah mendorong swasta melakukan lindung nilai (hedging).



Tony melanjutkan, fundamental ekonomi nasional saat ini juga relatif baik. Namun, fundamental ekonomi tersebut belum cukup menangkal pelemahan rupiah.

Dia menduga, ada struktur ekonomi yang belum kuat. Dari berbagai literasi, dia mengatakan, mata uang seperti Taiwan dan Korea Selatan relatif kuat karena negara tersebut berorientasi ekspor.

"Kesimpulannya negara kaya Taiwan Korea hebatnya dia itu perekonomiannya berorientasi pada ekspor, perdagangan kuat. Maka bisa himpun cadangan devisa gede itu yang buat mata uang stabil," ujarnya.

Sebab itu, dia bilang, untuk menjaga rupiah jangka panjang pemerintah mesti mendorong industri khusunya berorientasi ekspor. 

"Industrialisasi, ekspor kuat, itulah yang belum kita miliki. Fundamental ekonomi kuat, tapi masih kelemahan di situ, membuat kuda-kuda kita tak cukup tangguh ketika ada gejolak eksternal membuat rupiah volatile," tutupnya











0 komentar:

Posting Komentar