Kamis, 01 September 2016

6 Alasan BoE Potong Suku Bunga Dan Nasib Poundsterling Setelahnya

Sesuai ekspektasi, Bank Sentral Inggris (BoE) akhirnya mengambil putusan kebijakan moneter dengan caramemotong suku bunga hingga 25 basis poin menjadi 0.25 persen serta menggelontorkan pembelian obligasi pemerintah sebesar 70 miliar Pound dari jumlah sebelumnya sebesar 60 miliar Pound. Pendekatan-pendekatan tersebut direspon kuat oleh pasar terbukti dengan melemahnya Poundsterling secara tajam terhadap semua mata uang mayor.


Pertanyaannya, lalu apa sebenarnya yang mendasari keputusan BoE untuk mengambil kebijakan moneter tersebut di Bulan Agustus 2016 ini?

Menurut pernyataan Gubernur Mark Carney, pihaknya merasa bahwa dengan mengambil tindakan lebih awal dan komprehensif semacam itu, MPC diharapkan dapat mengurangi ketidakpastian, menopang kepercayaan bisnis, menumpulkan perlambatan, dan mendukung segala penyesuaian yang diperlukan dalam perekonomian Inggris. Selain itu, ada enam alasan lagi mengenai dasar pengambilan kebijakan BoE bulan Agustus ini. Berikut digambarkan dalam tabel grafik.
1. Pertumbuhan
Bank sentral merasakan adanya pelemahan nyata dalam pertumbuhan Inggris sejak keputusannya untuk meninggalkan Uni Eropa bulan Juni lalu.


Tak hanya itu, dalam proyeksi GDP mereka, tampak bahwa keterpurukan akan lebih kentara di tahun 2017 nanti daripada di tahun ini, dengan angka prediksi yang terpapras dari 2.3 persen menjadi 0.8 persen. Kendati demikian, dalam laporan inflasi terbarunya, BoE tak lantas menyimpulkan bahwa ekonomi Inggris akan terjerumus dalam resesi.

2. Inflasi
Proyeksi inflasi BoE memang meningkat sejak melemahnya Pounds Sterling. Saat ini, BoE memperkirakan inflasi Inggris bisa mencapai target 2 persen pada kuartal akhir 2017, lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya di kuartal kedua tahun 2018.

BoE mengungkapkan, "... Nilai tukar Sterling pun melorot drastis. Hal ini, dengan sendirinya, akan menjadi dukungan bagi para eksporter namun juga menaikkan harga immpor sehingga memberatkan pendapatan riil masyarakat dan menaikkan inflasi."

3. Pounds Sterling
Merujuk pada terempasnya Sterling sejak Brexit, BoE mengatakan bahwa Sterling kini berada 15 persen di bahwa puncak pada bulan November dan sekitar 10 persen di bawah jalur yang terbentuk pada bulan Mei.


4. Upah
Upah pekerja di Inggris tumbuh sangat lamban, sehingga merefleksikan minimnya pertumbuhan produktivitas. Bank sentral menyebut lemahnya pertumbuhan upah telah terjadi sejak krisis finansial dan reratanyamasih di bahwa level pra-krisis meski ada kenaikan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, Upah Pekerja Nasional yang telah diberlakukan pada April lalu, ditaksir hanya akan memberikan efek yang kecil bagi pertumbuhan upah secara keseluruhan.


5. Tingkat Pengangguran
Setelah Brexit, tingkat pengangguran Inggris diperkirakan akan lebih tinggi daripada yang diasumsikan oleh BoE pada bulan Mei. Tingkat Pengangguran akan naik menjadi 5.4 persen tahun depan (dari perkiraan 4.9 persen sebelum Brexit) dan akan terus naik hingga 5.6 persen pada tahun 2018. Dalam konferensinya kemarin, Gubernur BoE mengatakan, Unemployment Rate kemungkinan akan melonjak hingga 250,000 sehingga butuh tindakan segera.

6. Tingkat Suku Bunga
BoE memotong suku bunga untuk pertama kalinya sejak tahun 2009 menjadi 0.25 persen. Rate saat ini adalah yang terendah sejak BoE didirikan pada tahun 1694. Meski demikian, dalam pernyataan kemarin, Carney tak menyiratkan nada yang terlalu dovish dengan tak menyinggung masalah penerapan suku bunga negatif.


Bagaimana nasib Pounds Sterling setelah ini?

Kathy Lien, analis dari BK Asset Management memandang kebijakan BoE dan pernyataan-pernyataan gubernurnya sebagai sinyal tidak adanya tambahan penurunan yang parah untuk GBP/USD. Bank Sentral Inggris akan wait and see setelah menerapkan kebijakan untuk beberapa lama, kemungkinan hingga tahun depan, sebelum mengambil langkah baru.

Berdasarkan kondisi tersebut, BK Asset Management memprediksi bahwa Pound memang masih bisa mengalami pelemahan tajam -- GBP/USD, GBP/CAD, GBP/NZD, dan GBP/AUD yang tenggelam hampir 2 persen kemarin -- terhadap mata uang-mata uang lain, tetapi tidak akan turun tajam lagi terhadap Dolar AS.

0 komentar:

Posting Komentar