Selasa, 23 Februari 2016

Desakan bagi gencatan senjata di Suriah meningkat

Beirut (ANTARA News) - Usaha-usaha ditingkatkan untuk pemberlakuan gencatan senjata parsial di Suriah sementara pertempuran berkecamuk dekat Aleppo pada Senin dan setelah negara itu menderita serangan paling berdarah oleh kelompok jihadis dalam perang yang berlangsung hampir lima tahun.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin diperkirakan akan berbicara dalam beberapa hari mendatang setelah Washington mengumumkan suatu persetujuan pendahuluan dicapai mengenai "penghentian kekerasan."

Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengumumkan persetujuan itu dicapai pada Minggu ketika serangkaian pengeboman bunuh diri di kawasan-kawasan dekat tempat keramat pengikut Syiah di luar Damaskus dan di kota Homs membunuh sedikitnya 179 orang.

Kelompok Negara Islam (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas kedua serangan itu di kawasan-kawasan yang dikuasai pemerintah. Satu kelompok pemantau mengatakan serangan-serangan tersebut membunuh 120 orang dekat tempat suci Sayyida Zainab dan sedikitnya 59 orang di distrik Al-Zaharaa, Homs.

Pengeboman-pengeboman dekat tempat suci itu menandai serangan paling mematikan oleh kelompok jihadis sejak konflik Suriah pecah pada Maret 2011, kata Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah, sebuah kelompok pemantau yang berkedudukan di Inggris.

Kerry mengatakan para pemimpin AS dan Rusia akan berbicara "pada beberapa hari mendatang atau setelah itu" mengenai hal-hal terkait dalam pelaksanaan persetujuan tersebut, yang berlaku bagi pihak-pihak yang bertempur antara pasukan pemberontak di luar IS dan kelompok-kelompok lain dan pasukan pemerintah dukungan Moskow dan Teheran.

Gencatan senjata parsial itu tidak akan melebar ke usaha-usaha internasional untuk memerangi IS dan kelompok-kelompok jihadis lain di Suriah, yang memperumit pelaksanaannya.

Gencatan senjata yang diumumkan para diplomat top di Munchen awal bulan ini gagal dibelakukan pada Jumat lalu sebagaimana rencana semula.


Pembicaraan oposisi di Riyadh

Proposal itu, bagian dari suatu rencana yang juga mencakup akses kemanusiaan yang diperluas, bertujuan memuluskan jalan bagi penyelenggaraan kembali pembicaraan perdamaian yang gagal awal bulan ini di Jenewa.

Pembicaraan itu telah dijadwalkan diadakan pada 25 Februari, tetapi utusan PBB untuk Suriah sudah mengatakan bahwa tanggal itu tak lagi realistik.

Kelompok payung oposisi utama Suriah, Komite Negosiasi Tinggi (HNC), bertemu di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, pada Senin untuk mengadakan pembicaraan mengenai gencatan sennjata itu dan usaha-usaha pembicaraan perdamaian.

Juru bicara HNC Mozer makhous mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa pertemuan tersebut akan dilanjutkan selama dua atau tiga hari lagi, demikian AFP.

(M016)

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016

0 komentar:

Posting Komentar