Kamis, 11 Februari 2016

Pilot Super Tucano meninggal di RSSA Malang

Malang (ANTARA News) - Pilot Pesawat Super Tucano TT 3108 buatan Brasil yang jatuh menimpa rumah warga di Jalan LA Sucipto, Malang, Rabu, Mayor Pnb Ivy Safatillah akhirnya menghembuskan nafas terakhir, setelah sempat dirawat di RSSA Malang.


"Pilot sempat dirawat di RSSA, namun akhirnya meninggal. Sedangkan copilot Serma Syaiful masih dalam pencarian dan kabarnya selamat," kata Kapentak Lanud Abdurrahman Saleh Malang Mayor Hamdi Landong Allo di lokasi kejadian jatuhnya pesawat tempur Super Tucano tersebut di Jalan LA Sucipto Gang XII Malang, Jawa Timur.

Indikasi selamatnya copilot Super Tucano tersebut karena kursi lontar diketahui kosong saat dilakukan evakuasi serpihan bangkai pesawat berlangsung. Sebelumnya juga ditemukan parasut tanpa awak di kawasan Jl. Ikan Tombro.

Londhong menambahkan korban meninggal sampai saat ini diperkirakan ada tiga orang, yakni dua warga sipil dan satu pilot. "Sekarang kami masih kumpulkan data," ucapnya.

Hanya saja, sampai saat ini belum jelas diketahui bagaimana kronologis dan penyebab pesawat yang baru dibeli dari Brasil itu bisa jatuh. Pesawat itu jatuh di tengah permukiman padat penduduk sekitar pukul 10.05 WIB.

Menurut Kapentak, pesawat ini baru saja selesai perawatan.

"Saat jatuh pesawat tersebut sedang digunakan untuk uji penerbangan dan pesawat itu sengaja diujiterbangkan karena selesai diperbaiki dan Pilot Mayor Pnb Ivy Safatillah, yang menjadi teknisinya mencoba pesawat itu. Jadi bukan latihan," tegasnya.

Penyebab jatuhnya pesawat Super Tucano milik Lanud Abd Saleh juga masih dalam penyelidikan.

Sementara itu, di sekitar lokasi jatuhnya pesawat latih tempur Super Tucano TT 3108 tersebut dipenuhi anggota Polres Malang Kota dan pasukan dari TNI AU, petugas pemadam kebakaran serta relawan dari TRC Kota Malang maupun Kabupaten Malang.

Kapolres Kota Malang AKBP Decky Hendarsono yang memantau kondisi di lapangan mengatakan untuk membantu pengamanan pihaknya menurunkan satu SSK (satuan setingkat kompi) yang jumlahnya 100-120 personel.

"Tugas kami hanya membantu TNI AU saja, termasuk untuk evakuasi," katanya.

Ia mengatakan evakuasi dilakukan sepenuhnya oleh TNI AU karena ini kewenangan dan ranahnya TNI AU.

"Oleh karena itu, soal kronologis maupun penanganan di lokasi menjadi ranah TNI AU," kata Decky kepada wartawan.

Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2016

0 komentar:

Posting Komentar